Minggu, 21 Juli 2013

ANONIM



Saya tidak tahu tulisan ini didasari formula rasa apa
yang saya tahu, rasa kecewa begitu saja datang tanpa bisa dicegah, entah efek kehamilan saya yang orang-orang bilang mengundang 200% tingkat sensitif dibanding dengan ketika masa sebelum hamil.
Tapi yang selama ini saya rasakan, kehamilan saya tidak pernah memberikan efek sensitif ataupun efek buruk yang lainnya, keculai efek mual muntah pada 3 bulan pertama.

Saya tetap enjoy ketika segalanya tidak sejalan dengan keinginan saya, saya tetap bisa menerima bahkan ketika suami saya lebih membela apa yang saya anggap salah, atau ketika seorang teman memaksakan pendapatnya bahwa ngidam itu bawaan 'setan', saya tetap berlapang dada dalam menyikapi segala hal dan pola pikir yang orang lain argumenkan kepada saya.

Dan bagi saya kehamilan adalah anugerah yang tidak sepantasnya menjadi kambing hitam kemarahan seorang wanita yang mengandung, ataupun menjadi tumpuan keluh kesah atas segala rasa yang tidak sesuai dengan hatinya, kehamilan terlalu berharga bagi saya untuk semua itu.

Tapi ketika seorang memberikan peran "Anonim" untuk saya, rasanya saya amat sangat kecewa. Menurut saya, nama Septi, atau Yuliana, atau nama kecil saya Yuyun, bukanlah hal yang sulit di ucapkan atau dituliskan, tidak sesusah nama seorang teman seperti Kosoluchukwu Onyemelukwe, atau Zwygth yang agak membuat lidah keseleo saat mengucapkan namanya. tapi entah kenapa nama semudah yang diberikan oleh ibu saya sepertinya sangat sulit dia ucapkan atau tuliskan sehingga dia harus menggunakan kata 'dia' atau 'istrimu' saat menyebutkan saya.

Bagaimanapun bagi saya dia adalah seorang sahabat yang baik pada mulanya.  Justru itulah yang membuat saya kecewa, saya tetap mengganggapnya sahabat sampai kapanpun, tapi baginya saya adalah tiada, tidak pernah nampak, blur, buram, atau bahkan luntur seperti cairan sabun ditelan air. Tidak mengapa setiap orang memiliki hak untuk menggangap kita sebagai apa.

Hanya saja, saya tidak bisa menghindarkan rasa kecewa.

Lama sekali saya berfikir, apa yang membuatnya begitu berubah kepada saya. Tapi sayangnya saya tidak mau memposisikan diri saya menjadi seseorang yang terus mengukung diri sendiri dengan seluruh masalah imajinernya. Saya pernah memposisikan diri menjadi orang yang amat sangat saya benci, amat sangat saya cemburui, tapi hasilnya saya justru mampu merasakan apa rasanya menjadi dia, lama-lama saya mengerti tentang dia, bahkan saya jadi merasa sayalah dia. Atau memposisikan diri saya menjadi orang yang pernah saya cintai sebelumnya, saya merasakan apa yang dia rasakan, dan lama-lama saya merasa prihatin menjadi dia, betapa sulit menjadi dia selama dia mencintai saya, dan akhirnya saya mengerti bahwa mencintai bukanlah hal yang mudah selama orang yang kita cintai tidak pernah menoleh kepada kita.

Dari itu semua saya belajar mensyukuri apapun yang ada dalam diri saya sekarang, memiliki suami yang mencintai dan saya cintai sepenuh hati. Dan syukur yang selalu saya ucap hampir disetiap nafas saya, syukur yang tak terkira karena menjelang beberapa bulan lagi keluarga ini menjadi sempurna, dengan hadirnya little junior (insyAllah).

Dan lagi-lagi saya pahami, untuk mengerti orang lain, bahkan orang yang kita benci, kita perlu menyelami diri mencoba merasakan menjadi posisinya, memahami apa yang terjadi sebenarnya, kadang-kadang memang kita perlu terjun dan jadi basah untuk tahu air.

Tapi kali ini, saya tidak bisa memposisikan diri saya menjadi dia, masalah imajiner yang dia ciptakan memberi batasan kepada saya, karena saya tidak pernah mengimajinasikan sebuah masalah sepele menjadi sebuah kerumitan antar plenet otak dan hati yang tidak mampu ditembus dengan logika.

Salah satu cara menghentikan seluruh kegalauannya, berhentilah berimajinasi dengan setumpuk kesalahpahaman yang diciptakan diri sendiri, demi memuaskan diri sendiri agar merasa menjadi orang yang paling sengsara dan nelangsa.

Bagaimana seseorang terus menerus meratapi sebuah kata bernama takdir. Akal kita tidak akan pernah sampai kepada ilmu yang memang Tuhan telah tetapkan. Bagaimana bisa saya tahu bahwa takdir saya adalah dijodohkan dengan suami saya. bagaimana saya tahu jika sekedar sms yang mungkin amat sangat sederhana menanyakan 'ini siapa?' akan memberi tahu bahwa dialah jodoh saya, dan bagaimana bisa saya menghindari seorang jodoh, sedangkan jodoh itu sudah ditakdirkan seperti halnya kematian, dan kelahiran. Dan masihkan label 'Salah Saya' berlaku diantara kehendak Tuhan? haruskah kita merenungi nasib diri sendiri yang tak pernah mampu mengubah ketentuan Tuhan? Berhentilah berimajinasi, dan mulailah menerima bahwa 'Jodoh saya memang bukan dia'.

Seandainya dia menyadari bahwa tangan kami selalu terbuka, sesakit apapun hati saya hanya dengan kata 'maaf' sudah lumer seperti coklat dalam mangkuk tim.
Karena setahun lebih bersama suami saya, saya jauh lebih mengerti seperti apa dia, dan seperti apa sifatnya. sebab itu saya percaya sepenuhnya dengannya.

Semoga nama Septi menjadi mudah diucapkan setelahnya, semoga segala kebahagiaan yang kami miliki juga dia dapatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar