Minggu, 21 Juli 2013

Koin Yang Terabaikan





Kemarin, saat suami libur dua hari, kami hanya berada dirumah, tidak seperti hari-hari libur biasanya yang selalu membawa ide segar mau kemana dan mau apa. Mungkin karena memang kita sama-sama mempunyai 'pekerjaan rumah', suami yang membantu web kakaknya dengan menulis beberapa artikel, dan saya dengan deretan daftar blog yang ingin saya baca. Semua itu memang tidak sepantasnya disebut pekerjaan, tapi karena menurut saya semuanya memerlukan energi, pikiran, dan waktu maka saya sebut dengan 'pekerjaan'.


Siang hari, saat mata sama-sama lelah menatap layar dunia maya masing-masing, kami merebahkan badan. suami saya berhasil tidur siang hingga berjam-jam. Dan saya yang tidak memiliki hobi tidur siang, cuma bisa menatap layar ponsel sambil terus membaca blog.

Sebuah tulisan mengingatkan saya pada nilai rupiah dulu ketika saya bersekolah. Uang jajan yang saya terima pertama kali sekolah adalah Rp 150,-. Saat itu uang dengan nilai 150 rupiah adalah nilai yang terbilang cukup banyak, karena dengan 150 rupiah saya sudah bisa membeli beraneka makanan. sekolah yang memberikan waktu jeda pelajaran selama 2 kali itu membuat saya harus pandai mengatur uang. biasanya saya akan membeli donat meisis dan es kenyot pada istirahat pertama, dan akan membeli roti serta es limun di istirahat kedua. Terkadang 150 rupiah saya tidak habis, atau memang sengaja tidak saya habiskan, sebab jika dirumah nanti saya ingin jajan ibu saya sudah tidak akan memberikan uang lagi, sedangkan didepan rumah ketika sore sering sekali didatangi tukang-tukang jajanan keliling, es dung-dung adalah jajanan yang tidak pernah bisa saya hindari, dengan Rp 50,- saya sudah bisa menikmati segarnya es dicampur susu pada siang hari.

Mendadak suami saya bangun, dan saya menanyakan berapakah uang sakunya ketika kelas 1 SD. Ternyata suami mendapat uang saku 100 rupiah ketika SD, terbayang oleh saya uang dengan logam bertuliskan 100, atau selembar uang kertas berwarna merah muda bergambar perahu. Kami sama-sama membayangkan betapa indahnya nilai rupiah jaman dulu, hanya dengan selogam uang 100 rupiah sudah mengenyangkan perut. Suami lebih beruntung karena uang jajannya terus meningkat seiring dengan naik tingkat kelasnya, sedangkan saya tetap mendapa 150 rupiah sampai kelas 3, karena kelas 4 terjadilah krisis sehingga 150 rupiah seperti tidak memiliki nilai apa-apa.

Saya tiba-tiba teringat dengan sebuah kotak uang receh yang saya letakkan di sudut meja. Saya lupa sudah berapa lama kotak itu ada dan saya isi dengan koin-koin kembalian belanja ataupun ongkos busway. Seingat saya kotak itu baru berinisiatif saya isi belum sampai setahun yang lalu. Saya membongkar kotak tersebut, dan bercecerlah ratusan uang logam, mulai dari 100 rupiah sampai 1000 rupiah. Bersama suami saya membereskan uang-uang tersebut. dan ternyata jumlahnya cukup banyak. Sambil bingung juga mau diapakan receh sebanyak itu.

Sejenak saya merenung, betapa jauhnya rupiah telah turun, uang logam yang saya miliki sekarang jika dibandingkan dengan uang logam ketika saya SD tentu jauh berbeda. Jika dulu saya memiliki uang sebanyak ini mungkin saya sudah bisa membeli kendaraan bermotor pada saat itu. Bahkan nenek saya membeli tanah hanya dengan 20.000 rupiah ketika Indonesia baru saja merdeka.

Sekarang nilai arti uang-uang koin seperti ini sangat rendah, uang koin biasanya hanya digunakan untuk membayar tol, atau memberi pengemis, nilai uang koin seakan hanya menjadi uang 'yang tidak dibutuhkan'.

Saya tiba-tiba bertekad akan mengenalkan uang kepada anak saya, agar dia bisa menghargai berapa rupiah pun yang ia miliki, dan dia tahu berapapun rupiahnya semua didapat dari bekerja, tidak dari memungut ataupun nemu. Semuanya harus bekerja untuk mendapat kan uang pada mulanya.

Dan sekarang pun saya masih bingung memandangi tumpukan koin yang sudah rapi, bagaimana bisa saya mengabaikannya selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar