Senin, 22 Juli 2013

When Love Is Blind part 3 (Warna Itu Layaknya Pelangi)



Bab 3                               Warna Itu Layaknya Pelangi.




“Aku akan tetap menjaga indahnya cinta kita
Meski suatu saat
Pelangi tak lagi sanggup
Menjaga indah goresan warnanya”



            “Selamat sore.”
Suara itu, batin Ve. Suara itu membuat segala kegaduhan diruang tunggu yang menjadi satu dengan resepsionis mendadak senyap, dan seluruh pasang mata beralih ke pintu dimana suara itu berasal.
Ve dan seluruh orang yang berada disitu dibuat terpana. Kehadiran bos mereka dengan penampilan baru. Lukas Nampak mengubah gaya rambunya. Rambut yang biasa tergerai sebahu, atau di ikat kebelakang sekarang mendadak berubah menjadi seperti orang yang baru saja menjalani wajib militer di Korea. Rambutnya cepak nyaris botak.
            “Astage Kas, lu kenape? Lu ke Singapore atau Wamil di Korea, mendadak jadi ABRI gini?” ceplos Farras.
Lukas hanya tersenyum dan menjawab dengan ramah.
            “Apa kabar? Ini hanya style aja. Aku belum pernah botakin rambut.”
            “Semua baik pak. Segalanya berjalan lancar selama tidak ada Bapak.” Sahut Marry.
Mereka mengobrol, dan Lukas membagikan beberapa oleh-oleh coklat kepada karyawannya. Ve hanya duduk terdiam dan sesekali tersenyum menimpali percakapan mereka. Ada sesuatu yang mendesak-desak dalam hatinya, seribu pertanyaan yang ingin di tujukan pada Lukas. Ada apa dengan bosnya? Ve merasa bosnya benar-benar aneh. Selama bekerja disini, tak sekalipun Lukas merubah gaya rambutnya, selalu gondrong tanggung. Dan kepergiaanya selama seminggu membuatnya bertanya dan ingin tahu, kenapa dan untuk apa Lukas keluar negeri.
Setelah semua basa-basi itu selesai, dan satu persatu karyawannya pulang, Lukas menghampiri Ve yang masih membereskan berkas.
            “Hai… “ sapanya canggung.
            “Ya?” Ve mengangkat wajahnya, mendapati Lukas menyapanya dengan canggung. Secanggung anak SMP yang ingin menembak gebetannya. Malu dan grogi.
            “Gimana dengan kelasku?”
            “Seperti kata Marry, semua baik-baik saja dan berjalan dengan lancar.”
            “Sebagai ucapan terimakasih, aku tunggu kamu di mobil. Kita makan malam.”
Lukas pergi begitu saja keluar kantor setelah berkata dan sebelum Ve menjawab ‘Baiklah’ atau ‘Maaf aku tidak bisa’. Ve mengerutkan keningnya. Astaga, dia memang bosku tapi aku bukan pesuruhnya diluar jam kerja!! Batin Ve.


Sebelum Ve melangkah keluar menghampiri Lukas, seseorang datang menemuinya di depan pintu kantor.
            “Hai Lubna…” sapa Ve agak terkejut melihat siapa yang sedang berdiri dihadapan Ve.
            “Sekali lagi gue ingetin, lu sebaiknya jauhin abang gue. Gue kasian liat dia selalu diomelin papi. Please kak, lu cantik, banyak yang mau.” Lubna bicara tanpa basa-basi.
            “Masalahnya nggak segampang itu Lub…” Ve mendesah pelan. Dua kali sudah adik Vino datang menemuinya.
            “Itu dia masalahnya kak, lu nggak pernah benar-benar sayang sama abang gue. Makanya lu nggak kasihan dia diomelin papi terus gara-gara ngedeketin lu!!!” Lubna berlari pergi menahan tangis.
Ini bukan yang pertama. Sudah dua kali adik Vino mendatanginya. Pertama dirumah dan sekarang ditempat kerjanya. Ve tidak bisa menahan airmata. Tidak mungkin Lubna malam-malam mencarinya, jika Vino tidak habis bertengkar dengan ayahnya. Ve memang belum pernah mendengar sendiri, tapi dari cerita Lubna, ayahnya memang tidak menyukai Ve. Ve adalah seorang musisi, atau lebih tepatnya menyukai music, bahkan music menjadi pekerjaanya, sedangkan Vino terlahir dari keluarga yang sangat mendalami islam, dan ayahnya berpendapat bahwa music haram didalam islam. Mungkin itu sebabnya Vino tidak bisa memainkan alat music apa-apa, dan kurang menyukai ketika melihat Ve beraksi dipanggung mendampingi teman-tamannya ataupun bermain music didepannya.
Dan itulah yang menjadi sebab Vino tak pernah sekalipun mengajak Ve kerumahnya, hanya sekali selama 6 tahun ini Ve datang kerumahnya, itupun ketika ayahnya diluar kota dan Vino sedang sakit, Ve bermaksud menjenguknya. Ya, itu saja. Tak pernah lagi Ve datang kerumah Vino.

Kedatangan Lubna, semakin membuat batinnya tersiksa bahkan selama setahun terakhir ini. Ve merasa perlu menjauhi Vino, tapi ternyata Ve salah, Vino tidak pernah menyerah membuatnya luluh dan justru terus menerus membuatnya tak mampu melakukan apapun tanpa Vino dalam hidupnya. Vino tak pernah menyerah untuk tetap membuatnya merasa seperti putri, satu-satunya wanita yang dicintainya bahkan melebihi dirinya sendiri.
Dan ketika Ve mulai siap untuk menghadapi semua kembali, sekarang adik Vino muncul kembali dan bersikeras melarangnya berhubungan dengan Vino. Satu-satunya hal yang membuat Ve merasa takut adalah saat dia harus kehilangan Vino. Itu sebabnya belakangan hatinya semakin gamang saat Vino selalu memperlakukannya seperti seorang putri.
Ve menghelai nafas dan menyeka air matanya. Lukas mungkin sudah lama menunggu. Bagaimanapun Lukas masih menunggunya dimobil.


Dari kejauhan Lukas melihat Ve berjalan menghampirinya, Lukas memang terbiasa memarkirkan mobil agak jauh, karena parkiran didepan kantornya selalu penuh dengan mobil-mobil orangtua murid.
Lukas menatap Ve yang terus menunduk. Gadis itu, gadis yang selalu membuatnya semangat saat menatap gitar. Memberikan banyak inspirasi yang tak pernah dimilikinya setelah menyadari keadaan tubuhnya 2 tahun yang lalu. Saat melihat Ve berada dikantornya, Lukas merasa segalanya akan baik-baik saja. Saat tidak ada dirinya sekalipun.
            “Apa kamu membantu bang Asep dulu mengepel didalam?” Tanya Lukas saat jarak mereka tinggal 3 meter. Lukas sudah menunggu duduk di kap mobil daritadi.
            “Apa?!” Ve mengangkat wajahnya dan sedikit melotot.
            “Lama sekali.” Gerutu Lukas.
            “Kalau tidak sabar, kenapa tidak pergi saja daritadi.” Ve sedikit kesal.
Lukas berjalan kearah pintu dan membukakannya.
            “Masuklah.” Perintahnya.
Ve menggerutu tak jelas. Dalam hati Lukas tertawa. Mudah sekali memancing emosi gadis ini. Entah bagaimana bisa dia begitu sabar menghadapi anak-anak. Yang pasti Ve tak pernah ramah menghadapinya. Dan hal itulah yang membuatnya suka. Tak seperti kebanyakan gadis, yang selalu saja sok ramah dihadapannya. Lukas berjalan kearah kemudi, dan menancap gas. Membawa Ve pergi.

Sepasang mata menyaksikan semua.

Ve hanya menunduk. Bingung harus bicara apa disaat hatinya merasa tidak nyaman. Disaat segalanya terasa menghimpit pikirannya. Kata-kata Lubna kembali terbayang dan terdengar dihatinya.
“Itu dia masalahnya kak, lu nggak pernah benar-benar sayang sama abang gue. Makanya lu nggak kasihan dia diomelin papi terus gara-gara ngedeketin lu!!!”
            “Haallloooo…??? aku bicara sama kamu, apa kamu nggak dengar?” suara Lukas agak membesar dan membuyarkan seketika lamunan Ve.
            “Oh iya, sorry. Tadi bilang apa?” ve mengangkat wajahnya dan menatap bertanya pada Lukas.
Lukas menoleh kearahnya, menatapnya untuk sekian detik. Hingga Ve salah tingkah. Dan kembali menunduk.
            “Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Lukas setelah melihat perubahan diwajah Ve, bukan wajahnya yang merah merona yang membuatnya bertanya, tapi Lukas tahu, gadis itu belum lama habis menangis.
            “Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya lapar.” Ve mencoba menutupi kesedihannya.
            “Baiklah, sepertinya rasa laparmu terlalu berbahaya, sampai membuat menangis, dan tidak menganggap suaraku ada, memangnya sudah berapa hari kamu tidak makan?” Tanya Lukas tanpa beban.
            “Apa?!!” Tanya Ve sedikit melotot.
            “Oh baiklah sepertinya kamu benar-benar kelaparan sampai-sampai  pendengaranmu pun terganggu.”
            “Aaaoowwwhhh…” Ve kehabisan kata-kata, merasa kesal, atau sangat kesal.
            “Menyebalkan sekali.” Gumamnya lirih.
Dalam hati Lukas tertawa kecil. Dia segera memarkirkan mobil Lexusnya didepan sebuah restoran barat.
            “Kita makan pasta, kuharap kamu suka.” Katanya dan bergegas turun.
Rasa lapar diperut Ve semakin tak tertahan, mengingat betapa sukanya dia terhadap pasta dan masakan Italia lainnya.
Mereka duduk berhadapan disebuah bangku yang menghadap taman mungil disamping restoran itu, taman itu memiliki selasar-selasar yang mengelilingi kolam kecil dan ditumbuhi Nymphaea caereulea atau the blue water lily yang sangat menawan dan ditengahnya terdapat patung anak-anak gendut semacam Manequin Piss legenda negeri Belgia yang menyemprotkan air mancur sepanjang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu. Melihat suasana seperti itu hati Ve mulai sedikit luluh. Sedikit menikmati Lily membuatnya merasa menjadi lebih baik.
Seorang pelayan datang membawakan dua buah buku menu kepada mereka. Ve membaca deretan kata-kata dalam bahasa Itali. Ya restoran itu memang bernuansa Itali. Lukas tanpa bertanya kepadanya akan memesan makanan apa, tiba-tiba dia sudah menunjukkan apa yang akan dipesan dalam dua porsi. Ve kembali melongo dibuatnya. Ve tidak mengerti apakah laki-laki dihadapannya memiliki etika atau tidak.
Suasana hanya hening, tak sampai lima menit pelayan itu sudah datang membawakan berpiring-piring makanan.
            “Baiklah, mari kita makan. Anggap saja ini rasa terimakasihku karena kamu sudah banyak membantu murid-murid dikelasku.” Kata Lukas sembari tersenyum sok ramah.
“Menyebalkan!!” Gumam Ve.
            “Kita mulai dari ini, namanya Pumkin and Gorgonzola soup, sebenarnya ini makanan pembuka sebagai perangsang rasa lapar, tapi sepertinya kamu tidak butuh perangsang lagi ya… hahaha..” Lukas tertawa dengan puas.
“Sangat menyebalkan!!” Gumam Ve lagi.
“Dan ini adalah maincourse, namanya Caesan Salad, Chiken Cordon Bleu, Vitello alla Povenzale, dan Dessertnya Creamy cheesecake topped with strawberry puree, kalau ini… “
Lukas berhenti menjelaskan ketika dia menyadari kalau Ve sudah dengan nikmat menyantap makanan yang ada dihadapannya.
            “Aku tidak peduli apa namanya, aku tidak akan kenyang hanya dengan tau nama-namanya.” Dan Ve melanjutkan makan. Music Mozart mengalun. Dan Ve sudah tidak memperdulikan lagi apa yang dibicarakan Lukas ataupun apa yang sedang mengalun disekelilingnya.
Dalam hati Lukas semakin tertawa. Menyaksikan Ve kelaparan dihadapannya. Dan tertawa karena merasa bahagia bisa membuat entah apa yang tadi sempat membuat gadis itu menangis sedikit terlupakan.

‘Lukas salah jika mengira sudah mampu menghiburku.’ Batin Ve. ‘Menyebalkan sekali!! Aku memang bukan seorang putri, tapi aku juga bukan Cinderella!! Seenaknya saja memerintah ini-itu, dan memberiku imbalan seolah-olah aku adaalah budaknya!!’  Ve terus saja mengomel dalam hati, walau dia tetap diam menikmati segala pasta yang ada dihadapannya dan harus mengakui 3 hal, pertama bahwa makanan itu memang enak, kedua bahwa Lukas memang bosnya, dan tentu saja dia barhak memerintah, dan yang ketiga bahwa Lukas membuatnya sedikit melupakan kesedihan.




            “Mau jadi apa kalau dia jadi istrimu kelak!! Kamu mau beristrikan rockstar?!! Yang mempunyai skandal dimana-mana? Kamu itu laki-laki, tidak seharusnya diperlakukan seperti itu!!” teriak ayah Vino.
            “Tapi Ve bukan gadis seperti itu Pi !!” Teriak Vino tak kalah sengit. Walau ada nada memelas dalam kata-katanya.
            “Baca lagi hadist-hadist Nabi, Vino!! Tertulis jelas bahwa music itu diharamkan!!”
            “Dihadist apa dan riwayat siapa semua itu dikatakan Pi?!!” Vino mulai membantah.
            NGENGKEL KAMU YA SEKARANG!!!” Ayahnya sudah mengangkat tangan.
            “PAAAPIII…” Teriak ibu dan Lubna adiknya.
Ibunya menangis melihat ayahnya tersengal-sengal menahan nafas. Ayah Vino belum lama sembuh dari stroke bahkan sekarang masih menggunakan kursi roda. Sebab itulah Vino menggantikan memimpin perusahaanya. Ada rasa bersalah melihat keadaan ayahnya yang sekarang, sebab Vinolah yang membuat ayahnya terkena serangan stroke 2 tahun yang lalu.
            “Maafin Vino Pi..” Vino merasa sangat bersalah dan pergi masuk kedalam kamarnya. Lubna merasa sangat sedih dan berlari keluar rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar