Kamis, 18 Juli 2013

Dalam Sebuah Perangkap



Aku ingin menangis, tapi tak sempat mengeluarkan airmata
Terlalu banyak yang kutangisi
Dan diam menjadi pilihan yang terindah

Waktu yang tertunda membuatku nelangsa
seperti musafir tak mampu menemukan jalan kembali
dan hanya mampu menangis dalam diam dan sendiri

aku yang dilukai atau yang melukai aku tak tahu pasti
seperti pinta yang tak pernah terjawab
diam kita menjadi batas segalanya

jika saja semua tak hadir lagi dalam malam-malam terinfeksi
mungkin aku tak akan menjerit seperti pesakitan memohon pada mimpi

ataukah memang takdir kita yang begini
masihkah ada tali diantara kita yang biasanya menghubungkan segalanya tanpa suara?

tangis-tangis kita yang tak perlu terdengar tapi mampu kita pahami bersama
tawa-tawa kita yang selalu menjadi lambang betapa kita bergembira

bisakah waktu tak menghukum kita seperih ini, atau hanya aku saja yg menjadi perih
ku mohon berbahagialah atas bahagiaku dan bahagiamu,
seperti dulu kita selalu tertawa bersama
tanpa perlu meronta seperti pendosa

biarkan aku kembali pulang, kembali kejalan dimana langkah menjadi pilihan
biarkan aku bersama duniaku yang tak pernah menjadi bahagiamu
karena hanya itu tempatku sekarang
hanya disanalah aku menemui dunia nyata
bersamanyalah aku merasa menjadi lengkap tanpa perlu melebur
menjadi utuh tanpa perlu menjadi luntur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar