Sabtu, 20 Juli 2013

When Love Is Blind part 2



Bab 2                       Pertanyaan itu bernama “Kenapa?”




Tin-tin-tin!!
Klakson mobil diluar pagar mengagetkan Ve. Terdengar suara pagar di buka dan terjadi oborolan antara ibunya dengan Vino.
Ve bangkit dari kursi didepan laptopnya. Sekali lagi diperhatikannya penampilan dirinya di depan kaca. Pikirannya sebenarnya masih melambung jauh pada kata-kata Merry, sekretaris dan administrasi di tempat mengajarnya.
            “Mbak ini jadwal mengajar untuk minggu ini, ada beberapa perubahan karena Pak Lukas sedang ke Singapore.”
Ve terbengong menatap selembar kertas ditangannya. Membaca berulang-ulang. Bukan pada banyaknya kelas yang harus di isinya, tapi kenapa anak-anak di kelas Lukas diserahkan kepadanya semua. Perjanjiannya kan tidak seperti ini. Bukankah dia hanya perlu mengantikan Lukas hari jumat kemarin saja. Ve kembali mengingat kata-kata terakhir bosnya.
            “Apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku menyuruhmu menggantikan kelasku?”


Tok-tok-tok!!
            “Ve.. Vino sudah menunggu.” Suara ibunya membuyarkan lamunan keduanya tentang ‘Kelas Lukas’.
            “Iya bu, Ve segera keluar.” Teriak Ve sembari menyambar tas tangannya.

Ve keluar dan menemui Vino diruangtamu.
            “Hai…” senyum Ve seringan mungkin.
            “Hai Ve, kamu cantik sekali.” Vino menyambut pelukan sesaat kekasihnya itu. Selalu saja sama, Ve selalu bau coklat. Vino tahu Ve menggunakan parfum aroma coklat sama seperti 6 tahun yang lalu, tak berubah, seperti perasaanya terhadap Ve. Tak berubah sedikitpun.
Mereka berpamitan pada ibu Ve, dan beranjak pergi.


Mobil Land Rover milik Vino terparkir dengan rapi. Pemiliknya sedang menggandeng tangan Ve untuk masuk kedalam restoran. Mereka selesai nonton film, dan sekarang Vino mengajak Ve dinner.
Ruangan itu di dominasi warna biru paster, dengan suasana romantis, banyak bunga mawar putih dimana-mana dan satu bunga terpajang manis dalam sebuah vas diatas meja mereka. Ve sedikit bingung, dia berfikir mereka akan dinner di Bakmi GM seperti biasanya atau sekedar Dejonns Café menghabiskan burger kesukaan Ve setelah dia mengajar di hari sabtu.
Ve hanya duduk pasrah ketika Vino meraih tangannya, mengecup sekilas dan menatapnya dalam. Siapapun yang sedang dalam posisi diperlakukan seperti Ve tentu akan sangat bahagia, dia bagaikan seorang putri dimata Vino dan Vino dengan sukarela memperlakukannya selayaknya dialah bidadari terindah yang pernah ditemuinya didunia ini. Suasana di tempat ini pun sangat mendukung, sejenak Ve larut dalam perlakuan cinta Vino…
            “Happy Anniversary sayang,,, I Love U,,” Vino berkata lembut sembari menatapnya dengan penuh cinta. Ve sendiri tersentak.
Apa? Hari ini adalah hari jadian mereka? Kenapa Ve bisa lupa, kenapa Ve yang dulu selalu heboh menyiapkan kejutan untuk Vino tapi sekarang justru lupa. ‘Ada apa denganku?’  batin Ve.
Ve berusaha setenang mungkin, lalu tersenyum dengan manis.
            “Makasih ya Vin… happy Anniversary buat kita… I Love U Too…”
            “Ternyata kita sudah bersama selama 6 tahun ya… terimakasih sudah bersamaku selama itu..”
            “Kamu baik banget Vin sama aku selama ini, harusnya aku yang bilang begitu…” senyum Ve.
            “Aku pikir kamu lupa… hehehe…” Jawab Vino polos.
‘Aku memang lupa’  batin Ve.
            “bagaimana mungkin aku lupa… hehehehe..” jawab Ve sedikit salah tingkah.
‘Padahal kamu memang lupa.’  Batin Vino.


Sebelum Ve keluar dari mobil, Vino kembali menggenggam jemarinya. Ve tersenyum, terbesit rasa bersalah yang sangat dalam hatinya, bagaimana bisa dia melupakan hari bersejarah yang telah 6 tahun di jalaninya bersama Vino, mungkin dia tidak sengaja lupa, tapi tetap saja Ve merasa bersalah.
            “Ve.. I Love U..” bisik Vino lembut.
            “I Love U Too..” balas Ve sambil memeluk Vino yang masih dibalik kemudi.
‘Maafkan aku.’  Batin Ve berkali-kali.
Vino mengecup kening Ve dan berbisik.
            “Aku punya hadiah buat kamu.”
Ve melepas pelukkannya.
            “Hadiah apa?” tanyanya penasaran.
            “Ada dibagasi mobil, ambil yuk.”
Keduanya turun dari mobil. Vino membuka pintu bagasi.
            “Wow!! Aduh kasian sekali hadiahku di simpan di bagasi, kamu jahat…” Rengek Ve sedikit manja.
            “biar surprise… “ jawab Vino sambil tersenyum jail.
Ve mengambil sebuah aquarium mini berisi dua ekor kura-kura yang masih kecil. Ve sangat suka kura-kura.
            “Gimana kamu suka?”
            “Suka banget, makasih ya…” Ve tersenyum manis dan mengecup pipi Vino. Wajah Vino memerah, entah sudah berapa lama Ve tidak pernah melakukan hal demikian.
            “Kalau suka dirawat ya…”
            “Siapp komandan!” tangan Ve melayang ke pelipis kanannya. Dan tersenyum lepas. Sesaat kemudian perhatian Ve sudah tersita oleh tingkah dua ekor kura-kura yang saling hilir mudik kebingungan.
            “Ya udah, aku pulang dulu ya…”
            “Hati-hati dijalan ya Vin..” senyum Ve masih mengembang diwajahnya.
            “Nice sleep…” Vino memeluk Ve sebentar dan mengecupnya lembut.
Deru Land Rover mulai tak terdengar lagi. Ve menghelai nafas memasuki kamarnya, ibunya sudah tidur. Ve hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sebuah kecelakaan mobil 12 tahun yang lalu membuatnya kehilangan sosok ayah dan kakaknya. Ibunya adalah  wanita yang memiliki sosok tegar mengurusnya seorang diri.
Ve kembali tersenyum menatap dua kura-kura yang baru saja menghuni sudut kosong kamarnya. Ve membelai cangkang kura-kura dengan hati-hati, baru saja dia mau mengambil seekor kura-kura, HPnya berbunyi nyaring. Buru-buru diangkatnya, pasti Vino batin Ve.
            “Haloooo…” sapanya riang tanpa memperhatikan siapa yang menelepon.
            “Kamu belum tidur.” Sapa suara diseberang sana.
Bukan suara Vino, batin Ve. Seperti baru sadar Ve menjauhkan HPnya dari telinga dan membaca sederet huruf di layar ponselnya.
è 
l           L U K A S C’c

Deg!! Dada Ve mulai ribut.
            “Mmmmm…. Belum. Ada apa? Tumben malam-malam telepon.” Jawabnya berusaha datar.
            “Oh… tidak… tidak ada apa-apa. Apakah keadaan kantor baik-baik saja?”
            “Baik, bukannya kamu baru sehari meninggalkan kantor?”
            “Oh… iya… aku hanya kawatir.”
            “Oh.. ya…” Ve langsung teringat sesuatu. “ Apa maksudnya kamu menyuruhku menggantikanmu selama seminggu?” suara Ve menantang.
            “Kenapa? Kamu keberatan?” suara Lukas terdengar enteng tanpa rasa bersalah. Ve mengerutkan kening.
            “Tapi aku kan belum bilang iya atau tidak, mau atau tidak mau. Kenapa mendadak menyerahkan tugas seperti itu.”
            “Karena aku ada urusan di Singapore, dan karena aku percaya padamu.”
Ve baru ingat, kata-kata Marry selengkapnya. Bos mereka pergi ke Singapore selama seminggu.
Jadi… Lukas meneleponku dari Singapore?’ Ve membatin.
            “Halo? Kamu masih disana kan?” suara Lukas membuyarkan lamunan Ve.
            “Ummm… baiklah. Sebagai gantinya aku minta oleh-oleh paling banyak daripada yang lain.”
‘Kamu pikir aku liburan.’ Batin Lukas.
            “Baiklah. Ok. Sampai nanti.” Lukas menutup telepon. Ve melongo. “ Baiklah” katanya?? menyebalkan sekali.



Vino masuk kedalam kamarnya, tersenyum sesaat, dan berubah dengan tertegun. Ve sudah melupakan hari jadi hubungan mereka, dia tahu Ve berbohong dan pura-pura mengingatnya. Dia juga menyadari betapa banyaknya perubahan dalam diri Ve.
Bosankah yang menjadi alasan?’ tanyanya dalam hati. Tapi cepat-cepat ditepisnya pikiran buruk itu.
‘Ve tetap mencintaiku seperti 6 tahun yang lalu.’ Katanya meyakinkah hati.
Vino mengambil HP dan mencoba menghubungi Ve, tapi nada sibuk berkepanjangan yang menjawab teleponnya. Vino mengerutkan kening, dan menoleh ke arah jam digital ditangannya, pukul 22.17. Ve menelepon siapa malam-malam begini?


Ve mengigit roti dan meminum susu dengan terburu-buru.
            “Ya ampun Ve, pelan-pelan!”
            “Buru-buru bu.” Ve terus mengunyah sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan dimeja makan. Dia hampir telat mengajar.
            “Sudah seminggu ini kamu terburu-buru ketika berangkat dan pulang agak malam.”
            “Iya bu, bosku pergi keluar negeri, jadi aku harus menggantikan kelasnya.”
            “Kenapa kamu tidak belajar menyetir saja, Corolla ayahmu sudah lama menganggur. Kalau kamu naik angkot tentu saja membuatmu terlambat.”
Ve tertegun, mengingat mobil kesayangan ayahnya yang selama ini hanya berada di garasi. Tapi setiap kali mengingat kejadian 12 tahun yang lalu, saat ayahnya merasa lelah menyetir dan kakaknya menggantikan menyetir, kecelakaan itu terjadi. Ve merasa takut untuk belajar menyetir. Tapi mungkin ibu benar, batinnya.
            “Iya bu, terimakasih sarannya. Aku akan coba belajar. Ve berangkat dulu ya bu.” Ve mencium tangan ibunya.
            “Hati-hati.”
Ve bergegas berangkat, sebelum macet membuatnya semakin terlambat masuk kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar