Bab 2 Pertanyaan itu bernama “Kenapa?”
Tin-tin-tin!!
Klakson
mobil diluar pagar mengagetkan Ve. Terdengar suara pagar di buka dan terjadi
oborolan antara ibunya dengan Vino.
Ve bangkit
dari kursi didepan laptopnya. Sekali lagi diperhatikannya penampilan dirinya di
depan kaca. Pikirannya sebenarnya masih melambung jauh pada kata-kata Merry,
sekretaris dan administrasi di tempat mengajarnya.
“Mbak
ini jadwal mengajar untuk minggu ini, ada beberapa perubahan karena Pak Lukas
sedang ke Singapore.”
Ve
terbengong menatap selembar kertas ditangannya. Membaca berulang-ulang. Bukan
pada banyaknya kelas yang harus di isinya, tapi kenapa anak-anak di kelas Lukas
diserahkan kepadanya semua. Perjanjiannya kan tidak seperti ini. Bukankah dia
hanya perlu mengantikan Lukas hari jumat kemarin saja. Ve kembali mengingat
kata-kata terakhir bosnya.
“Apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku
menyuruhmu menggantikan kelasku?”
Tok-tok-tok!!
“Ve..
Vino sudah menunggu.” Suara ibunya membuyarkan lamunan keduanya tentang ‘Kelas
Lukas’.
“Iya
bu, Ve segera keluar.” Teriak Ve sembari menyambar tas tangannya.
Ve keluar dan menemui Vino
diruangtamu.
“Hai…”
senyum Ve seringan mungkin.
“Hai
Ve, kamu cantik sekali.” Vino menyambut pelukan sesaat kekasihnya itu. Selalu
saja sama, Ve selalu bau coklat. Vino tahu Ve menggunakan parfum aroma coklat
sama seperti 6 tahun yang lalu, tak berubah, seperti perasaanya terhadap Ve.
Tak berubah sedikitpun.
Mereka
berpamitan pada ibu Ve, dan beranjak pergi.
Mobil
Land Rover milik Vino terparkir dengan rapi. Pemiliknya sedang menggandeng
tangan Ve untuk masuk kedalam restoran. Mereka selesai nonton film, dan
sekarang Vino mengajak Ve dinner.
Ruangan
itu di dominasi warna biru paster, dengan suasana romantis, banyak bunga mawar
putih dimana-mana dan satu bunga terpajang manis dalam sebuah vas diatas meja
mereka. Ve sedikit bingung, dia berfikir mereka akan dinner di Bakmi GM seperti
biasanya atau sekedar Dejonns Café menghabiskan burger kesukaan Ve setelah dia
mengajar di hari sabtu.
Ve hanya
duduk pasrah ketika Vino meraih tangannya, mengecup sekilas dan menatapnya
dalam. Siapapun yang sedang dalam posisi diperlakukan seperti Ve tentu akan
sangat bahagia, dia bagaikan seorang putri dimata Vino dan Vino dengan sukarela
memperlakukannya selayaknya dialah bidadari terindah yang pernah ditemuinya
didunia ini. Suasana di tempat ini pun sangat mendukung, sejenak Ve larut dalam
perlakuan cinta Vino…
“Happy
Anniversary sayang,,, I Love U,,” Vino berkata lembut sembari menatapnya dengan
penuh cinta. Ve sendiri tersentak.
Apa? Hari
ini adalah hari jadian mereka? Kenapa Ve bisa lupa, kenapa Ve yang dulu selalu
heboh menyiapkan kejutan untuk Vino tapi sekarang justru lupa. ‘Ada apa denganku?’ batin Ve.
Ve
berusaha setenang mungkin, lalu tersenyum dengan manis.
“Makasih
ya Vin… happy Anniversary buat kita… I Love U Too…”
“Ternyata
kita sudah bersama selama 6 tahun ya… terimakasih sudah bersamaku selama itu..”
“Kamu
baik banget Vin sama aku selama ini, harusnya aku yang bilang begitu…” senyum
Ve.
“Aku
pikir kamu lupa… hehehe…” Jawab Vino polos.
‘Aku
memang lupa’ batin Ve.
“bagaimana
mungkin aku lupa… hehehehe..” jawab Ve sedikit salah tingkah.
‘Padahal
kamu memang lupa.’ Batin
Vino.
Sebelum
Ve keluar dari mobil, Vino kembali menggenggam jemarinya. Ve tersenyum,
terbesit rasa bersalah yang sangat dalam hatinya, bagaimana bisa dia melupakan
hari bersejarah yang telah 6 tahun di jalaninya bersama Vino, mungkin dia tidak
sengaja lupa, tapi tetap saja Ve merasa bersalah.
“Ve..
I Love U..” bisik Vino lembut.
“I
Love U Too..” balas Ve sambil memeluk Vino yang masih dibalik kemudi.
‘Maafkan
aku.’ Batin Ve berkali-kali.
Vino mengecup kening Ve dan
berbisik.
“Aku
punya hadiah buat kamu.”
Ve melepas pelukkannya.
“Hadiah
apa?” tanyanya penasaran.
“Ada
dibagasi mobil, ambil yuk.”
Keduanya turun dari mobil. Vino
membuka pintu bagasi.
“Wow!!
Aduh kasian sekali hadiahku di simpan di bagasi, kamu jahat…” Rengek Ve sedikit
manja.
“biar
surprise… “ jawab Vino sambil tersenyum jail.
Ve
mengambil sebuah aquarium mini berisi dua ekor kura-kura yang masih kecil. Ve
sangat suka kura-kura.
“Gimana
kamu suka?”
“Suka
banget, makasih ya…” Ve tersenyum manis dan mengecup pipi Vino. Wajah Vino
memerah, entah sudah berapa lama Ve tidak pernah melakukan hal demikian.
“Kalau
suka dirawat ya…”
“Siapp
komandan!” tangan Ve melayang ke pelipis kanannya. Dan tersenyum lepas. Sesaat
kemudian perhatian Ve sudah tersita oleh tingkah dua ekor kura-kura yang saling
hilir mudik kebingungan.
“Ya
udah, aku pulang dulu ya…”
“Hati-hati
dijalan ya Vin..” senyum Ve masih mengembang diwajahnya.
“Nice
sleep…” Vino memeluk Ve sebentar dan mengecupnya lembut.
Deru Land
Rover mulai tak terdengar lagi. Ve menghelai nafas memasuki kamarnya, ibunya
sudah tidur. Ve hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sebuah kecelakaan mobil 12
tahun yang lalu membuatnya kehilangan sosok ayah dan kakaknya. Ibunya
adalah wanita yang memiliki sosok tegar
mengurusnya seorang diri.
Ve
kembali tersenyum menatap dua kura-kura yang baru saja menghuni sudut kosong
kamarnya. Ve membelai cangkang kura-kura dengan hati-hati, baru saja dia mau
mengambil seekor kura-kura, HPnya berbunyi nyaring. Buru-buru diangkatnya, pasti Vino batin Ve.
“Haloooo…”
sapanya riang tanpa memperhatikan siapa yang menelepon.
“Kamu
belum tidur.” Sapa suara diseberang sana.
Bukan
suara Vino, batin Ve. Seperti baru sadar Ve menjauhkan HPnya dari telinga dan
membaca sederet huruf di layar ponselnya.
è
l L U K A S
C’c
Deg!! Dada Ve mulai ribut.
“Mmmmm….
Belum. Ada apa? Tumben malam-malam telepon.” Jawabnya berusaha datar.
“Oh…
tidak… tidak ada apa-apa. Apakah keadaan kantor baik-baik saja?”
“Baik,
bukannya kamu baru sehari meninggalkan kantor?”
“Oh…
iya… aku hanya kawatir.”
“Oh..
ya…” Ve langsung teringat sesuatu. “ Apa maksudnya kamu menyuruhku
menggantikanmu selama seminggu?” suara Ve menantang.
“Kenapa?
Kamu keberatan?” suara Lukas terdengar enteng tanpa rasa bersalah. Ve
mengerutkan kening.
“Tapi
aku kan belum bilang iya atau tidak, mau atau tidak mau. Kenapa mendadak
menyerahkan tugas seperti itu.”
“Karena
aku ada urusan di Singapore, dan karena aku percaya padamu.”
Ve baru ingat, kata-kata Marry
selengkapnya. Bos mereka pergi ke Singapore selama seminggu.
‘Jadi… Lukas meneleponku dari Singapore?’ Ve membatin.
“Halo?
Kamu masih disana kan?” suara Lukas membuyarkan lamunan Ve.
“Ummm…
baiklah. Sebagai gantinya aku minta oleh-oleh paling banyak daripada yang
lain.”
‘Kamu
pikir aku liburan.’ Batin Lukas.
“Baiklah.
Ok. Sampai nanti.” Lukas menutup telepon. Ve melongo. “ Baiklah” katanya?? menyebalkan sekali.
Vino
masuk kedalam kamarnya, tersenyum sesaat, dan berubah dengan tertegun. Ve sudah
melupakan hari jadi hubungan mereka, dia tahu Ve berbohong dan pura-pura
mengingatnya. Dia juga menyadari betapa banyaknya perubahan dalam diri Ve.
‘Bosankah yang menjadi alasan?’ tanyanya
dalam hati. Tapi cepat-cepat ditepisnya pikiran buruk itu.
‘Ve tetap mencintaiku seperti 6 tahun yang
lalu.’ Katanya meyakinkah hati.
Vino
mengambil HP dan mencoba menghubungi Ve, tapi nada sibuk berkepanjangan yang
menjawab teleponnya. Vino mengerutkan kening, dan menoleh ke arah jam digital
ditangannya, pukul 22.17. Ve menelepon siapa malam-malam begini?
Ve
mengigit roti dan meminum susu dengan terburu-buru.
“Ya
ampun Ve, pelan-pelan!”
“Buru-buru
bu.” Ve terus mengunyah sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan dimeja
makan. Dia hampir telat mengajar.
“Sudah
seminggu ini kamu terburu-buru ketika berangkat dan pulang agak malam.”
“Iya
bu, bosku pergi keluar negeri, jadi aku harus menggantikan kelasnya.”
“Kenapa
kamu tidak belajar menyetir saja, Corolla ayahmu sudah lama menganggur. Kalau
kamu naik angkot tentu saja membuatmu terlambat.”
Ve
tertegun, mengingat mobil kesayangan ayahnya yang selama ini hanya berada di
garasi. Tapi setiap kali mengingat kejadian 12 tahun yang lalu, saat ayahnya
merasa lelah menyetir dan kakaknya menggantikan menyetir, kecelakaan itu
terjadi. Ve merasa takut untuk belajar menyetir. Tapi mungkin ibu benar, batinnya.
“Iya
bu, terimakasih sarannya. Aku akan coba belajar. Ve berangkat dulu ya bu.” Ve
mencium tangan ibunya.
“Hati-hati.”
Ve bergegas berangkat, sebelum
macet membuatnya semakin terlambat masuk kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar