Rabu, 24 Juli 2013

Menulis Sejarah Tulisan

Lama tidak menulis, membuat saya ketika menemukan kembali ruang untuk menulis menjadi seorang pecandu menemukan obatnya.
Terimakasih pada suami saya, yang berinisiatif menghidupkan kembali modem keomputer kami yang sudah lama 'tertidur'.
Berbekal 40 ribu rupiah, modem itu kembali terbangun, dengan kuota 2 GB kami sama-sama menelusuri hobi yang berbeda tapi sama-sama lama tak tersentuh.
Sebenarnya kebiasaan menulis sudah saya miliki sejak sekolah dasar kelas 4, ketika umur saya masih 8 tahun. Tulisan saya yang pertama berjudul 'Ternyata Cuma Mimpi', diatas buku tulis yang tak terpakai karena tipisnya. Tipis karena sering kali di sobek, dijadikan kertas ulangan yang kala itu setiap ulangan mengharuskan murid menyobek kertas dari buku tulisnya.
Saya masih ingat, bahwa tulisan itu saya niatkan menjadi 'cerpen', meski ketika SMP dan saya membacanya kembali kemudian tertawa terpingkal-pingkal dan menyadari bahwa tulisan itu benar-benar memalukan untuk saya beri label 'cerpen'.
Tulisan yang hanya 15 baris itu membuat saya tersadar, bahwa hakekatnya saya menulis bukan untuk siapapun, melainkan untuk diri saya sendiri saat itu, hari itu.
Terserah saya mau menjadi apa dan menulis apa. Saya tidak mengharapkan pujian orang, ataupun menjadi terkenal. Yang terlintas ketika saya menulis adalah saya ingin menjadi jiwa saya, saya ingin berkenalan dengan siapa saya lewat tulisan tersebut.
Seperti yang digambarkan Charles Bukowski menulis itu adalah sebagai sesuatu yang datang tanpa diminta, keluar dari hatimu dan dari muntahmu... ia melesat dari jiwamu seperti sebuah roket! (....that comes unasked out of your heart and your mind and your mouth and your gut... it comes out of your soul like a rocket!)>
Dan saya sangat setuju dengan Amitav Gosh, salah satu penulis dunia : "Pada dasarnya saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca."
Saya benar-benar menyesali karena tidak mampu menyelamatkan tulisan tangan mungil saya, karena kepindahan sekolah dan tak sempat mengurusnya, akhirnya tulisan itu terdampar ke tangan tukang loak, karena nenek saya menjualnya bersama tumpukkan buku-buku saya yang lainnya.
Terkadang saya ingin menangisi kepergian buku-buku masa kecil saya, 'Mereka' saya beli dari hasil menabung rupiah demi rupiah, walau sebagian bedar dari buku itu adalah majalah. Majalah bobo, Ina, Belia, apapun saya beli waktu itu dan tak sedikit juga buku dongeng.
Dengan uang jajan 500 rupiah (kenaikan uang jajan saya dari 150 rupiah menjadi 500 rupiah karena terjadi krisis saat itu, hingga 150 menjadi sangat kecil nilainya) yang masih harus saya sisihkan demi membeli 'Mereka' walau dalam keadaan bekas.
Betapa saya sangat berterimakasih kepada 'Mereka' yang telah membuat saya 'lebih tahu' dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang seusia saya waktu itu.
Saat mereka masih asik dengan film Ninja Hatori atau Si Doel Anak Sekolahan, maka saya sudah membayangkan film Ace Age dan The Lord of The Ring.
Melalui majalah Bobo, saya mengenal film-film itu, dan saya tahu apa yang menjadi cerita dalam film itu sebelum saya menontonnya.
Karena ketiadaan bioskop di tempat saya waktu itu, akhirnya saya baru bisa menonton film-film itu ketika beranjak remaja dan itupun hanya di televisi.
Bagaimanapun saya sangat mensyukuri dan berterimakasih atas keberadaan 'Mereka' yang mampu membangkitkan imajinasi saya, sehingga akhirnya hobi menulis saya ada, hingga hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar