Sabtu, 20 Juli 2013

When Love Is Blind part 1

Saya percaya seperti kata Dee : Sebuah karya adalah anak jiwa, dan ia sepatutnya hidup di alam tebuka. ia akan lebih sehat dan kuat di sana, daripada dibekam dalam format bahasa biner. membiarkannya berbicara dalam bahasa yang kita mengerti bersama.

Maka dari itu, disinilah saya menampilkan karya yang nyaris sudah bertahun-tahun hanya mengisi folder saya.

Semoga layak berkembang di alam terbuka.


 

WHEN LOVE IS BLIND

Part 1



Bab 1                              Cinta Yang Memiliki Muara.




“Aku mungkin tidak bisa membaca pikiranmu,
Tapi satu yang bisa kulakukan :
Mencintaimu segenap hatiku”
           

“Ve… ?? … ve… ??”
            “Ah iya Vin??” Ve tergagap dari lamunannya.
            “Hmmm… kamu melamun lagi ya?”
            “Sorry… sorry… tadi kamu bilang apa Vin?”
            “Tuh kan kamu ngelamun. Tadi aku bilang, malam ini kita nonton yuk? Ada film baru lho…”
            “Umm… malam ini ya?”
            “Nggak Ve!! Malam tahun baru!!”
            “Hehehe… Please deh.”
            “Ya iyalah malam ini, kalau nggak terus aku harus boking kamu buat nonton besok tahun baru gitu?”
            “Iye.. iye..”
            “Jadi jawaban kamu Iya Ve??” Mata Vino berbinar.
            “Lha kata siapa?”
            “Tadi kamu barusan jawab ‘iye’. Gimana seh?” Vino kembali nyureng.
            “Sebenarnya aku capek banget Vin. Hari ini juga banyak banget kerjaan.” Sebenarnya Ve sedikit berbohong, dia merasa masih lemas karena demam kemarin malam. Dan sengaja tidak memberitahu Vino.
            “Ah kamu Ve, ini kan weekend. Aku kan ngajaknya juga malam sabtu, bukan malam selasa. Please Ve… malam ini aja.”
            “Sebentar-sebentar… kenapa kamu pengen banget ngajak aku nonton?”
Vino menghelai nafas, mencoba menyembunyikan kekecewaanya.
‘Kenapa kamu masih bertanya Ve?’ batinnya.
            “Karena…. Ummm… karena… ya karena apalagi seh Ve? Emang butuh alasan buat ngajak cewek sendiri nonton ya?”
            “Nggak juga seh… hehehe..”
            “Aku jemput jam 7 malam. Titik.”
            “Eh, aku kan belum…”
            “Bye” klik. Vino memutus saluran telepon.

Huuuuuffffhhhhh!!! Ve membuang nafas panjang, mendengus kesal menatap kaca dihadapannya.
‘‘Ada apa denganku?? Harusnya aku menjaga Vino bukan??’’ tanyanya sendiri.


Jumat Pagi.
            “Lu ada kelas jam berapa Ve? Tumben pagi-pagi udah datang?” sapa Nira sahabatnya.
            “Hah? Biasanya juga datang jam segini kali. Gue ada kelas jam 9 sampai jam 3.” Jawab Ve sambil membolak-balik buku. Sebenarnya pikirannya melayang jauh memikirkan jam 7 nanti malam.
            “Ve, kemaren dicariin Lukas ntuh. Emangnye kemaren lu kemane?” sela Farras.
Deg!! Jantung Ve berdetak kencang ketika nama itu disebut. Dengan nada di datar-datarkan Ve menjawab.
            “Gue nggak enak badan, pan gue udah izin ame pak bos.”
            “Yeee… lu ijin telpun ke hp doi langsung, mane gue tau alesan lu kagak masuk apaan.” Elak Farras. Cowok kelahiran Betawi asli, Farras jago banget main bass, nggak heran suaranya juga ngebas dengan logat Betawi punye.
            “Ra… Lukas kemana?” Tanya Ve.
            “Apa? Coba di ulang?!”
            “Ah, nggak usah belagak budek deh!!!”
            “Hehehe,,, kangen lu ya, kok lu mulai cari-cari Lukas seh?” Tanya Nira dengan wajah antusias.
Kangen? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Batin Ve.
Ve mendengus.
            “Sejak kapan pertanyaan beranak jadi pertanyaan?!!”
            “Sejak barusan!! Pertanyaanku juga kamu ternakkan jadi pertanyaan.”
Ve semakin kesal. Nira itu polos, bego, atau kepo seh? Tapi Nira tetap teman terbaik Ve selama berada di tempat kursus ini.


Krrrieeeeetttt.
Pintu depan terbuka, sosok bernama Lukas yang sedang di bicarakan masuk. Semua orang diam bergeming, dan menatap kearah sosok yang seperti magnet dimanapun dia berada, menguras perhatian dan focus untuk mengamati setiap apa yang melekat pada cowok itu.
            “Pagi pak…” sapa Marry, sekretaris di tempat itu. Yang lain hanya senyum dan masih memelototi sosok yang masih berdiri.
Yang dipelototi justru hanya diam, berjalan santai, sedikit menoleh dan tersenyum samar. Tapi pandangannya tertuju pada seorang gadis yang masih santai membaca buku ditangannya.
            “Ve, kamu sudah sembuh?”
Deg!! Jantung itu kembali berirama tak sewajarnya. Sebenarnya Ve sedang bersembunyi dibalik bukunya, Ve tidak mengerti kenapa setiap kali menatap mata Lukas, selalu ada harapan yang tak dimengerti harapan tentang apa.
            “Sudah.” Jawab Ve dengan suara yang dibuat enteng, seolah jantungnya baik-baik saja bahkan tak berirama.
            “Tidak lupa ada kelas jam 9 kan?”
            “Iya aku ingat, tapi materinya?” Ve mengangkat wajahnya dan menatap tepat pada mata coklat itu. Dan jantungnya berirama lebih kacau lagi.
            “Ikut keruanganku.” Jawab si pemilik mata coklat sembari melangkah keruangannya.
Ya, dia memang bos disini. Dia yang mendirikan tempat kursus ini. Hanya saja dia masih terlalu muda untuk di panggil Bapak atau Pak. Selain Marry, semua pengajar hanya memanggilnya dengan sebutan nama. Lukas bukan orang yang ramah dan tak juga jutek, seadanya, itulah kata yang tepat menggambarkan sosoknya. Hanya jika ada perlu dia bicara, hanya jika ada hal yang pantas ditertawakan dia tertawa. Tapi dia juga adalah bos yang asik, terutama untuk Ve.
Ve bergegas masuk keruangan Lukas. Mengambil materi mengajar hari ini. Karena dia harus menggantikan kelas Lukas, kelas dengan murid-murid senior yang berbakat. Ve menutup kembali pintu yang baru saja dilewatinya. Berjalan mendekati meja, Lukas sibuk menyiapkan beberapa kertas.
            “Ini materinya, ajarkan Cress minor di lagu ini, pasitkan melatih feeling mereka sesuai lagu.”
            “Ok.” Ve mengambil tumpukkan kertas dan membacanya sebentar.
Lukas memperhatikannya, berharap Ve melontarkan pertanyaan, tapi sikap Ve yang hanya diam membuatnya gemas bertanya.
            “Apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku menyuruhmu menggantikan kelasku?”
Ve mengangkat wajahnya, kaget mendapatkan pertanyaan yang sedikitpun tidak melintas di benaknya. Dengan wajah polos dia menjawab.
            “Aku tidak tahu…”
Lukas hanya tersenyum.
            “Ah, sudahlah lupakan saja. Kelas dimulai sebentar lagi. Bersiap-siaplah.”
Masih dengan kebingungan Ve melangkah keluar. Dan Lukas hanya diam.

Ve berjalan memasuki kelas 6, otaknya belum berhenti berfikir, kenapa selama seminggu Lukas terus mewanti-wantinya jangan sampai lupa dengan jadwal les hari ini? Baru kali ini pertanyaan “Kenapa?” muncul dikepalanya. Sejak seminggu yang lalu dia hanya menerima tugas dan tanpa pernah bertanya apalagi menentang perintah.


Drrzzz!!
Belum sampai Ve keruangan kelas sebuah SMS masuk di HPnya.
è                             "Jangan lupakan janji jam 7"

Fiiiiuuuuhhhh… ve menghelai nafas mencoba meringankan langkahnya yang mendadak berat.

Vino tersenyum seletah meletakan HP di meja kerjanya. Terlintas lagi senyuman Ve enam tahun yang lalu, masih menggunakan seragam putih abu-abu saat Vino berhasil membuatnya mengangguk iya tanda mau menjadi pacarnya. Setelah itu hari-hari mendadak indah, Ve telah menyulap hidupnya seindah pelangi. Ve seorang gadis yang membuatnya benar-benar  percaya bahwa cinta itu ada bahkan di usia yang terlalu muda untuk mengenal apa itu cinta sesungguhnya.

Ve melangkah masuk kelas, suasana ribut mendadak hening. 5 pasang mata mengarah ke arah Ve. Ve tersenyum manis. Menuju depan kelas duduk di kursi tinggi.
            “Selamat Pagi…”
            “Pagi Miss…” jawab kelimanya.
            “Maaf, hari ini Mr. Lukas tidak bisa mengajar kelas kalian. Jadi kenalkan saya Miss Velicia atau panggil saja Miss Ve yang akan menggantikan Mr. Lukas hari ini.”
Mereka tersenyum dan mengangguk. Mereka adalah anak-anak yang rata-rata duduk di kelas VI dan SMP. Mereka menyukai music. Dan memilih Chrod Classical sebagai tempat kursus mereka.
Ya, inilah tempat Ve bekerja. Sebuah tempat kursus music. Ada berbagai macam alat music, tapi Ve mengajar Gitar.
Ve mengambil sebuah gitar clasik, dan mencobanya. Ini gitar Lukas. Ya, karena ini juga kelas Lukas.
            “Karena ini bulan November, lagu perkenalan kita adalah November Rain, Slash dari Gun N Roses.”
Ve memulai lagunya…
Anak-anak terpana dibuatnya, tak percaya Miss Velicia yang cukup anggun mampu membawakan lagu GNR, dalam waktu singkat mereka mulai mengagumi guru penggantinya…

Lukas menghelai nafas dan tersenyum, dari samping kelas mencoba memperhatikan staff pengajarnya mulai memainkan gitar dan menyanyi. Lukas tak pernah mengerti apa yang membuat Ve menyukai lagu rock sekaligus lagu clasik, dan terkadang mampu menggabungkan keduanya menjadi music yang luar biasa.
Lukas mengenal Ve setahun yang lalu, saat pertemuan itu terjadi, Ve memainkan gitar milik temannya di sebuah café outdoor. Awalnya bukan wajahnya yang memaksa Lukas untuk tidak berhenti memandang ke arah gadis itu, melainkan karena permainnya, ya permainan gitar gadis itu, terlalu bagus untuk seorang gadis semanis Ve yang baru-baru ini disadarinya, Ve memang manis dan anggun. Itu saja. Lukas tak mau mengakui kelebihan fisik gadis itu lebih dari saat ini.
Lukas sudah cukup yakin untuk meninggalkan kelasnya kepada Ve. Lukas tahu murid-muridnya menyukai guru pengganti dirinya itu.
Lukas meraih HP di saku celananya.
            “Kita take off siang ini juga.”
Dan bergegas pergi meninggalkan tempat kursusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar