Saya percaya seperti kata Dee : Sebuah karya adalah anak jiwa, dan ia sepatutnya hidup di alam tebuka. ia akan lebih sehat dan kuat di sana, daripada dibekam dalam format bahasa biner. membiarkannya berbicara dalam bahasa yang kita mengerti bersama.
Maka dari itu, disinilah saya menampilkan karya yang nyaris sudah bertahun-tahun hanya mengisi folder saya.
Semoga layak berkembang di alam terbuka.
Maka dari itu, disinilah saya menampilkan karya yang nyaris sudah bertahun-tahun hanya mengisi folder saya.
Semoga layak berkembang di alam terbuka.
WHEN LOVE IS BLIND
Part 1
Bab 1 Cinta Yang
Memiliki Muara.
“Aku mungkin tidak bisa membaca
pikiranmu,
Tapi satu yang bisa kulakukan :
Mencintaimu segenap hatiku”
“Ve… ?? …
ve… ??”
“Ah
iya Vin??” Ve tergagap dari lamunannya.
“Hmmm…
kamu melamun lagi ya?”
“Sorry…
sorry… tadi kamu bilang apa Vin?”
“Tuh
kan kamu ngelamun. Tadi aku bilang, malam ini kita nonton yuk? Ada film baru
lho…”
“Umm…
malam ini ya?”
“Nggak
Ve!! Malam tahun baru!!”
“Hehehe…
Please deh.”
“Ya
iyalah malam ini, kalau nggak terus aku harus boking kamu buat nonton besok
tahun baru gitu?”
“Iye..
iye..”
“Jadi
jawaban kamu Iya Ve??” Mata Vino berbinar.
“Lha
kata siapa?”
“Tadi
kamu barusan jawab ‘iye’. Gimana seh?” Vino kembali nyureng.
“Sebenarnya
aku capek banget Vin. Hari ini juga banyak banget kerjaan.” Sebenarnya Ve
sedikit berbohong, dia merasa masih lemas karena demam kemarin malam. Dan
sengaja tidak memberitahu Vino.
“Ah
kamu Ve, ini kan weekend. Aku kan ngajaknya juga malam sabtu, bukan malam
selasa. Please Ve… malam ini aja.”
“Sebentar-sebentar…
kenapa kamu pengen banget ngajak aku nonton?”
Vino menghelai nafas, mencoba
menyembunyikan kekecewaanya.
‘Kenapa
kamu masih bertanya Ve?’ batinnya.
“Karena….
Ummm… karena… ya karena apalagi seh Ve? Emang butuh alasan buat ngajak cewek
sendiri nonton ya?”
“Nggak
juga seh… hehehe..”
“Aku
jemput jam 7 malam. Titik.”
“Eh,
aku kan belum…”
“Bye”
klik. Vino memutus saluran telepon.
Huuuuuffffhhhhh!!! Ve membuang
nafas panjang, mendengus kesal menatap kaca dihadapannya.
‘‘Ada apa
denganku?? Harusnya aku menjaga Vino bukan??’’ tanyanya sendiri.
Jumat
Pagi.
“Lu
ada kelas jam berapa Ve? Tumben pagi-pagi udah datang?” sapa Nira sahabatnya.
“Hah?
Biasanya juga datang jam segini kali. Gue ada kelas jam 9 sampai jam 3.” Jawab
Ve sambil membolak-balik buku. Sebenarnya pikirannya melayang jauh memikirkan
jam 7 nanti malam.
“Ve,
kemaren dicariin Lukas ntuh. Emangnye kemaren lu kemane?” sela Farras.
Deg!! Jantung Ve berdetak kencang
ketika nama itu disebut. Dengan nada di datar-datarkan Ve menjawab.
“Gue
nggak enak badan, pan gue udah izin ame pak bos.”
“Yeee…
lu ijin telpun ke hp doi langsung, mane gue tau alesan lu kagak masuk apaan.”
Elak Farras. Cowok kelahiran Betawi asli, Farras jago banget main bass, nggak
heran suaranya juga ngebas dengan logat Betawi punye.
“Ra…
Lukas kemana?” Tanya Ve.
“Apa?
Coba di ulang?!”
“Ah,
nggak usah belagak budek deh!!!”
“Hehehe,,,
kangen lu ya, kok lu mulai cari-cari Lukas seh?” Tanya Nira dengan wajah
antusias.
Kangen?
Pertanyaan bodoh macam apa itu? Batin Ve.
Ve mendengus.
“Sejak
kapan pertanyaan beranak jadi pertanyaan?!!”
“Sejak
barusan!! Pertanyaanku juga kamu ternakkan jadi pertanyaan.”
Ve
semakin kesal. Nira itu polos, bego, atau kepo seh? Tapi Nira tetap teman
terbaik Ve selama berada di tempat kursus ini.
Krrrieeeeetttt.
Pintu
depan terbuka, sosok bernama Lukas yang sedang di bicarakan masuk. Semua orang
diam bergeming, dan menatap kearah sosok yang seperti magnet dimanapun dia
berada, menguras perhatian dan focus untuk mengamati setiap apa yang melekat
pada cowok itu.
“Pagi
pak…” sapa Marry, sekretaris di tempat itu. Yang lain hanya senyum dan masih
memelototi sosok yang masih berdiri.
Yang
dipelototi justru hanya diam, berjalan santai, sedikit menoleh dan tersenyum
samar. Tapi pandangannya tertuju pada seorang gadis yang masih santai membaca
buku ditangannya.
“Ve,
kamu sudah sembuh?”
Deg!!
Jantung itu kembali berirama tak sewajarnya. Sebenarnya Ve sedang bersembunyi
dibalik bukunya, Ve tidak mengerti kenapa setiap kali menatap mata Lukas,
selalu ada harapan yang tak dimengerti harapan tentang apa.
“Sudah.”
Jawab Ve dengan suara yang dibuat enteng, seolah jantungnya baik-baik saja
bahkan tak berirama.
“Tidak
lupa ada kelas jam 9 kan?”
“Iya
aku ingat, tapi materinya?” Ve mengangkat wajahnya dan menatap tepat pada mata
coklat itu. Dan jantungnya berirama lebih kacau lagi.
“Ikut
keruanganku.” Jawab si pemilik mata coklat sembari melangkah keruangannya.
Ya, dia
memang bos disini. Dia yang mendirikan tempat kursus ini. Hanya saja dia masih
terlalu muda untuk di panggil Bapak atau Pak. Selain Marry, semua pengajar
hanya memanggilnya dengan sebutan nama. Lukas bukan orang yang ramah dan tak
juga jutek, seadanya, itulah kata yang tepat menggambarkan sosoknya. Hanya jika
ada perlu dia bicara, hanya jika ada hal yang pantas ditertawakan dia tertawa.
Tapi dia juga adalah bos yang asik, terutama untuk Ve.
Ve
bergegas masuk keruangan Lukas. Mengambil materi mengajar hari ini. Karena dia
harus menggantikan kelas Lukas, kelas dengan murid-murid senior yang berbakat.
Ve menutup kembali pintu yang baru saja dilewatinya. Berjalan mendekati meja,
Lukas sibuk menyiapkan beberapa kertas.
“Ini
materinya, ajarkan Cress minor di lagu ini, pasitkan melatih feeling mereka
sesuai lagu.”
“Ok.”
Ve mengambil tumpukkan kertas dan membacanya sebentar.
Lukas
memperhatikannya, berharap Ve melontarkan pertanyaan, tapi sikap Ve yang hanya
diam membuatnya gemas bertanya.
“Apa
kamu tidak ingin tahu kenapa aku menyuruhmu menggantikan kelasku?”
Ve
mengangkat wajahnya, kaget mendapatkan pertanyaan yang sedikitpun tidak
melintas di benaknya. Dengan wajah polos dia menjawab.
“Aku
tidak tahu…”
Lukas hanya tersenyum.
“Ah,
sudahlah lupakan saja. Kelas dimulai sebentar lagi. Bersiap-siaplah.”
Masih dengan kebingungan Ve
melangkah keluar. Dan Lukas hanya diam.
Ve
berjalan memasuki kelas 6, otaknya belum berhenti berfikir, kenapa selama
seminggu Lukas terus mewanti-wantinya jangan sampai lupa dengan jadwal les hari
ini? Baru kali ini pertanyaan “Kenapa?” muncul dikepalanya. Sejak seminggu yang
lalu dia hanya menerima tugas dan tanpa pernah bertanya apalagi menentang
perintah.
Drrzzz!!
Belum sampai Ve keruangan kelas
sebuah SMS masuk di HPnya.
è "Jangan
lupakan janji jam 7"
Fiiiiuuuuhhhh… ve menghelai nafas
mencoba meringankan langkahnya yang mendadak berat.
Vino
tersenyum seletah meletakan HP di meja kerjanya. Terlintas lagi senyuman Ve
enam tahun yang lalu, masih menggunakan seragam putih abu-abu saat Vino
berhasil membuatnya mengangguk iya tanda mau menjadi pacarnya. Setelah itu
hari-hari mendadak indah, Ve telah menyulap hidupnya seindah pelangi. Ve
seorang gadis yang membuatnya benar-benar
percaya bahwa cinta itu ada bahkan di usia yang terlalu muda untuk
mengenal apa itu cinta sesungguhnya.
Ve
melangkah masuk kelas, suasana ribut mendadak hening. 5 pasang mata mengarah ke
arah Ve. Ve tersenyum manis. Menuju depan kelas duduk di kursi tinggi.
“Selamat
Pagi…”
“Pagi
Miss…” jawab kelimanya.
“Maaf,
hari ini Mr. Lukas tidak bisa mengajar kelas kalian. Jadi kenalkan saya Miss
Velicia atau panggil saja Miss Ve yang akan menggantikan Mr. Lukas hari ini.”
Mereka
tersenyum dan mengangguk. Mereka adalah anak-anak yang rata-rata duduk di kelas
VI dan SMP. Mereka menyukai music. Dan memilih Chrod Classical sebagai tempat
kursus mereka.
Ya,
inilah tempat Ve bekerja. Sebuah tempat kursus music. Ada berbagai macam alat
music, tapi Ve mengajar Gitar.
Ve
mengambil sebuah gitar clasik, dan mencobanya. Ini gitar Lukas. Ya, karena ini
juga kelas Lukas.
“Karena
ini bulan November, lagu perkenalan kita adalah November Rain, Slash dari Gun N
Roses.”
Ve memulai lagunya…
Anak-anak
terpana dibuatnya, tak percaya Miss Velicia yang cukup anggun mampu membawakan
lagu GNR, dalam waktu singkat mereka mulai mengagumi guru penggantinya…
Lukas
menghelai nafas dan tersenyum, dari samping kelas mencoba memperhatikan staff
pengajarnya mulai memainkan gitar dan menyanyi. Lukas tak pernah mengerti apa
yang membuat Ve menyukai lagu rock sekaligus lagu clasik, dan terkadang mampu
menggabungkan keduanya menjadi music yang luar biasa.
Lukas
mengenal Ve setahun yang lalu, saat pertemuan itu terjadi, Ve memainkan gitar
milik temannya di sebuah café outdoor. Awalnya bukan wajahnya yang memaksa
Lukas untuk tidak berhenti memandang ke arah gadis itu, melainkan karena
permainnya, ya permainan gitar gadis itu, terlalu bagus untuk seorang gadis
semanis Ve yang baru-baru ini disadarinya, Ve memang manis dan anggun. Itu
saja. Lukas tak mau mengakui kelebihan fisik gadis itu lebih dari saat ini.
Lukas
sudah cukup yakin untuk meninggalkan kelasnya kepada Ve. Lukas tahu
murid-muridnya menyukai guru pengganti dirinya itu.
Lukas meraih HP di saku
celananya.
“Kita
take off siang ini juga.”
Dan bergegas pergi meninggalkan
tempat kursusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar